• Loading stock data...

Petrus Selestinus: JK, Berhentilah Membuat Pernyataan Rasis dan Diskriminatif

  • Bagikan

Jakarta, BisnisNusantara.com-Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus meminta Jusuf Kalla (JK), mantan Wakil Presiden RI, berhenti membuat pernyataan-pernyataan rasis dan duskriminatif.

Sebab, pernyataan-pernyataan rasis dan diskriminatif sangat berpotensi mengancam persatuan dan merusak kohesivitas sosial, di tengah upaya sekelompok masyarakat merusak kohesi sosial masyarakat Indonesia saat ini.

Permintaan itu disampaikan Petrus dalam rilisnya yang diterima BisnisNusantara.com, Kamis (17/06/2021) malam, merespon pernyataan JK yang disampaikan di depan Menteri BUMN Erick Thohir dalam acara silaturahmi Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang ditayangkan secara virtual, pada Senin 14 Juni  2021 dan dipublis beberapa media.

Pada kesempatan itu JK memaparkan kalau ekonomi umat Islam sedang terpuruk karena di antara 10 orang kaya, hanya satu yang muslim. Apabila ada 100 orang miskin, setidaknya 90 umat muslim yang miskin. Jadi pincang keadaan ekonomi kita.

Di sini, kutip Petrus, JK memaparkan soal kondisi ekonomi Indonesia yang dianggap sebagai pincang dan terpuruk, berdasarkan preferensi agama dan suku (SARA) bahwa ekonomi umat Islam terpuruk karena di antara 10 orang kaya hanya satu  orang  muslim,   yang   kaya   itu Tionghoa,    Konghuchu    dan      Kristen.

Baca Juga:  Sidang Dewan Pengawas KPK Ungkap Fakta Dugaan Aksi Jahat Azis Syamsuddin

Petrus kemudian mengungkap pernyataan JK serupa ketika selaku Wapres JK berbicara di hadapan peserta Tanwir Muhammadiyah di Ambon. Saat menutup Tanwir, pada 24 Februari 2017, JK bilang, kesenjangan ekonomi di Indonesia sudah cukup membahayakan karena perbedaan agama antara yang kaya dan miskin.

“Orang-orang kaya adalah warga keturunan yang beragama Konghuchu maupun Kristen, sedangkan, orang yang miskin sebagian besar penganut Islam dan ada juga yang Kristen”, kutip Petrus.

Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) ini menilai, pembedaan seperti yang dinyatakan JK itu tidak dibenarkan. Sebab, orang mau kaya atau menjadi miskin, bukan pada soal beda agama dan sukunya tetapi pada mau bekerja keras dan trampil atau tidak.

“Pernyataan JK ini jelas provokatif dan berlawanan dengan kewajibannya selaku warga negara. Dia seharusnya tidak membuat narasi yang rasis, diskriminatif dan manipulatif seolah-olah keadaan ekonomi masyarakat yang terpuruk atau pincang, penyebabnya adalah orang-orang kaya beragama Konghuchu, Kristen dan Tionghoa”, tegas Petrus.

Baca Juga:  TPDI: Kajati NTT Yulianto dapat Dituntut Korupsi

Petrus sangat tidak setuju bila pernyataan JK itu dijadikan dalil motivasi agar persoalan kesenjangan teratasi dengan cara mendorong umat Islam untuk menjadi pengusaha. Pernyataan JK itu malahan sudah masuk dalam kategori tindakan diskriminasi Ras dan Etnis, yang dilarang UU.

“Pernyataan JK terkesan menunjukan kebencian kepada kelompok lain, karena perbedaan Ras dan Etnis, dengan cara melontarkan kata-kata rasis di tempat umum atau tempat lainnya sehingga mudah didengar orang lain. Pernyataan yang demikian, dapat dikualifikasi sebagai tindak pidana sesuai  Pasal 16 UU No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis”, katanya.

Menurut Petrus, selama kurang lebih 20 tahun duduk dalam pemerintahan, JK seharusnya tahu sebab-sebab kegagalan pemerintah  mewujudkan pemerataan, memperkecil kesenjangan, dan lain-lain.

“JK justru mencari kambing hitam menyalahkan kelompok lain yang dengan kerja keras, kompeten, mencapai sukses atas keringat sendiri, tidak atas dasar perbedaan agama, suku dan golongan”, tandas Petrus.

Baca Juga:  Sidang Dewan Pengawas KPK Ungkap Fakta Dugaan Aksi Jahat Azis Syamsuddin

Menurut Petrus, selama ini JK aktif melontarkan sindiran tentang keberhasilan ekonomi sekelompok warga masyarakat keturunan, yakni Tionghoa, Konghuchu dan Kristen. Tetapi, JK pun selalu berdalil bahwa dia sangat dekat dengan pengusaha keturunan Tionghoa di Makasar.

Bahkan, sahabatnya, Sofjan Wanandi juga keturunan Tionghoa dan Kristen yang pagi, siang, sore, malam selalu bersama JK.

Karena itulah, JK seharusnya memahami bahwa adanya Diskriminasi Ras dan Etnis dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hambatan bagi hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perdamaian, keserasian, keamanan, dan kehidupan bermata pencaharian di antara warga negara yang pada dasarnya selalu hidup berdampingan.

Karena itulah Petrus meminta JK untuk sebaiknya berhenti membuat narasi yang berpotensi merusak kohesivitas soal masyarakat.

“Potensi-potensi ras dan diskriminasi itu akan menyulitkan upaya pemerintah merawat kebhinekaan dan menjaga kohesi sosial dalam masyarakat yang beragam”, demikian Petrus. (cyk)

  • Bagikan