• Loading stock data...

Kesalahan Besar Aparat Mengira Wartawan Itu harus menjadi Anggota PWI

  • Bagikan

Jakarta, BisnisNusantara.com-Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Wilson Lalengke, SPd, MSc, MA menegaskan, kesalahan besar aparat selama ini mengira wartawan itu harus menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI.

Hal itu disampaikan Lalengke saat menjawab pertanyaan  pendamping Binsan Simorangkir, seorang Polwan berpangkat AKBP dalam Sidang Kode Etik Profesi Polri dengan terduga pelanggar AKBP Dr. Binsan Simorangkir, SH, MH di Ruang Sidang KEPP Gedung Transnational Crime Centre (TNCC) Mabes Polri Lt. 1, Jl. Trunojoyo No. 3 Jakarta Selatan, Senin (20/09/2021).

Dalam sidang tersebut, pendamping Binsan menanyakan perihal Kartu Tanda Anggota atau KTA PWI yang dimiliki Lalengke. Mendapat pertanyaan itu, Lalengke bersuara keras dan tegas menjawab.

“Saya bukan anggota PWI.  Jadi, saya tidak memiliki kartu anggota PWI”, tegas Lalengke

Jawaban Lalengke yang disampaikan dengan suara tegas dan keras itu berangkat dari munculnya berbagai organisasi wartawan di tanah air sejak awal reformasi.

Sejak awal reformasi, tegas Lalengke, ada puluhan bahkan ratusan organisasi wartawan di luar PWI yang terbentuk di tanah air. Salah satunya adalah organisasi yang dia pimpin, yakni PPWI atau Persatuan Pewarta Warga Indonesia.

Tokoh pers nasional yang dikenal gigih membela para wartawan dan warga yang terzolimi di berbagai tempat di nusantara ini melanjutkan, salah satu kesalahan besar banyak aparat di mana-mana, selalu mengira jika seorang wartawan itu harus menjadi anggota PWI.

Lalengke hadir dalam Sidang KEPP itu sebagai saksi Pelapor atas terduga pelanggar AKBP Dr. Binsan Simorangkir, SH, MH.

Binsan Simorangkir adalah seorang polisi, mantan penyidik di Direktorat Tindak Pidana Khusus dan Ekonomi (Dittipideksus) Bareskrim Mabes Polri. Binsan Simorangkir didakwa telah melakukan pelanggaran KEPP berupa pemerasan dan/atau pemalakan terhadap warga, Leo Handoko, yang sedang diprosesnya saat bertugas sebagai Penyidik.

Selain Lalengke, hadir sebagai saksi juga adalah Parwata yang juga Penyidik kasus Leo Handoko. Tetapi, Parwata tidak dapat memberikan banyak keterangan. Ia hanya membenarkan informasi bahwa dirinya bertugas sebagai penyidik atas kasus Leo Handoko bersama-sama dengan terduga pelanggar Binsan Simorangkir.

Namun, terkait  dugaan telah terjadi pemerasan dan/atau pemalakan terhadap Leo Handoko, dan kawan-kawan oleh atasannya itu, Parwata mengaku tidak mengetahui sama sekali.

Sidang kemudian di-skors pada pukul 12.00 wib untuk istirahat sholat dan makan siang. (*/cyk)

  • Bagikan